<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936</id><updated>2011-04-22T05:38:31.231+07:00</updated><category term='E-510'/><title type='text'>Ocehan Aguk</title><subtitle type='html'>Sekedar ocehan dari saya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936.post-8158231581001296284</id><published>2008-01-29T14:00:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T14:22:45.230+07:00</updated><title type='text'>Kenya dan Iraq</title><content type='html'>Ada perbedaan yang sangat mencolok antara Kenya dan Iraq. Pada saat Iraq diserbu oleh Oom Bush, dikatakan bahwa Iraq tidak demokratis karena dikuasai diktator dan mempunyai senjata pemusnah massal. Tuduhan kedua jelas tidak terbukti, karena pasukan Oom Bush tidak menemukan senjata pemusnah massalnya. Jadi seharusnya tidak ada alasan untuk menyerbu ke Iraq dengan alasan tersebut. Kalau alasan kemanusiaan karena adanya diktator Saddam Hussein, itu berarti memang Oom Bush cemburu berat sama Saddam. Karena diktator atau tidak, itu urusan dalam negeri Iraq. Kalau karena urusan kemanusiaan, mengapa Oom Bush tidak segera menyerbu Kenya dan mengamankan negara tersebut dari kehancuran total.&lt;br /&gt;Ada apa dengan Kenya? mungkin banyak tidak mendengar bahwa Kenya sedang menuju kehancuran. Kerusuhan antar suku terpicu hasil pemilu yang dimenangkan oleh presiden sebelumnya dari suku Kikuyu. Hasil tersebut tidak diakui oleh oposisi dari suku Luo. Pertentangan ini menimbulkan kerusuhan antar suku. Dari www.detik.com hari ini, diberitakan 19 orang suku Luo (11 orang adalah anak-anak sekolah), dibakar hidup-hidup oleh gerombolan suku Kikuyu setelah terjebak dalam sebuah rumah. Ke-19 orang tersebut diketemukan berkumpul dalam satu ruangan dan hangus terbakar hingga tidak dikenali. Selain itu, juga dari detik, kekerasan seksual juga meningkat tajam sejak terjadinya kerusuhan tersebut. Wanita diperkosa pada saat akan buang air kecil di malam hari di kamp-kamp penampungan. Selain itu juga terjadi prostitusi untuk mendapatkan sepotong roti untuk mengganjal perut.&lt;br /&gt;Seharusnya dunia lebih peduli dengan kasus ini, terutama oom Bush. Dari pada menyerbu Iraq, mendingan pasukan AS dikirim ke Kenya untuk mengamankan situasi dan menjaga stabilitas politiknya. Ada kemungkinan, AS takut dengan milisi-milisi berbasis suku di Afrika, sejak kejadian black hawk down di Somalia. Pasukan elit AS dihabisi dengan cara gerilya seperti ketika mereka tidak bisa memenangkan perang Vietnam.&lt;br /&gt;Akan tetapi, yang perlu kita sadari bahwa saat ini Kenya bisa menjadi killing field yang besar karena perang antar suku, pembasmian etnis dan kelaparan. Manusia tidak lebih berharga dari sepotong roti. Sungguh mengenaskan jika hal ini terjadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307936-8158231581001296284?l=ocehan-aguk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/8158231581001296284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307936&amp;postID=8158231581001296284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/8158231581001296284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/8158231581001296284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/2008/01/kenya-dan-iraq.html' title='Kenya dan Iraq'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936.post-4290773769707041787</id><published>2008-01-29T09:45:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T10:21:18.922+07:00</updated><title type='text'>Jenderal Besar Soeharto</title><content type='html'>Tentu sudah banyak yang menulis tentang Pak Harto, mungkin sudah membosankan buat pembaca sekalian membaca tentang Pak Harto. Berbagai gosip, pendapat, cerita sejarah, pujian dan tetek bengek menghiasi berbagai media di Indonesia sebulan ini. Dan pasti sampai 7 hari ke depan, masih saja banyak berita tentangnya.&lt;br /&gt;Tapi, saya hanya ingin mengingatkan kepada pembaca blog saya, agar melihat bahwa saat ini pak Harto sudah meninggal. Tidak perlu lagi diungkit-ungkit keburukannya, kecuali memang hal ini dibutuhkan ketika persidangan di pengadilan. Bahwa manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan dan kebaikan, maka sebaiknya kita mengingat kebaikan orang lain ketika orang tersebut sudah meninggal. Paling tidak, supaya jalan orang tersebut lebih ringan.&lt;br /&gt;Beberapa pihak menghimbau supaya rakyat Indonesia memaafkan pak Harto, tetapi beberapa pihak juga mengingatkan agar proses hukum tetap dijalankan. Saya pribadi, begitu pak Harto begitu menderita saat mereggang nyawa, saya sudah memaafkan dia. Mungkin saya bisa seperti itu karena saya tidak pernah secara langsung berurusan dengan Pak Harto. Saya sendiri menyadari, pasti akan sulit bagi orang-orang yang pernah berurusan dengan Pak Harto, apalagi yang mendapatkan siksaan secara fisik hingga harus meregang nyawa dengan penuh kesakitan, melebihi sakitnya Pak Harto. Tetapi, saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa Allah Maha Adil. Bagaimana keadilan Allah itu tidak perlu kita pertanyaan. Allah tahu bagaimana menyeimbangkan rasa sakit korban Pak Harto dengan rasa sakit Pak Harto sendiri. Itu bukan urusan kita, tetapi urusan Pak Harto dengan Allah. Allah punya timbangan sendiri, yang pasti lebih adil dari semua timbangan di dunia fana ini. Oleh karena itu, percayalah bahwa Allah akan memberikan keadilan kepada umatnya seadil-adilnya.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan dendam itu sendiri? Dendam tidak akan pernah bisa selesai kalau tidak ada yang berusaha untuk menyelesaikannya. Dendam itu bagaikan lingkaran setan. Kalau tidak ada yang berusaha untuk melepaskan dendam dengan percaya bahwa Allah akan memberikan keadilan yang seadil-adilnya, dengan mengejar keadilan duniawi, Insya Allah tidak akan pernah selesai dendam mendendam tersebut.&lt;br /&gt;Pak Harto adalah pahlawan. Apakah akan diangkat jadi pahlawan nasional dalam waktu 1 hari setelah meninggal atau 100 tahun setelah meninggal, itu tidak ada bedanya. Ada ahli sejarah yang mengungkapkan bahwa sangat tidak adil bahwa Pak Karno diangkat jadi pahlawan nasional setelah 14 tahun dan Bung Hatta setelah 6 tahun, sementara Bu Tien hanya dalam hitungan 7 bulan. Itu mungkin keadilan ukuran manusia Indonesia. Bagi para pahlawan, gelar tersebut tidak akan dikejar. Tidak perlu mendapat gelarpun tidak apa-apa. Hanya amal dan kebaikan yang dibawa menuju padang masyar. Bukan gelar pahlawan. Insya Allah, semua adalah pahlawan. Setidaknya pahlawan bagi yang dihati orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Tidak perlu diteriakan, cukup dengan cinta dan kasih......&lt;br /&gt;Selamat beristirahat dengan tenang pak... jauh dari hingar bingar duniawi....&lt;br /&gt;jakarta, 27 Januari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307936-4290773769707041787?l=ocehan-aguk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/4290773769707041787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307936&amp;postID=4290773769707041787' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/4290773769707041787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/4290773769707041787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/2008/01/jenderal-besar-soeharto.html' title='Jenderal Besar Soeharto'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936.post-5023742375123123150</id><published>2007-12-05T16:48:00.001+07:00</published><updated>2008-11-13T12:45:36.355+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='E-510'/><title type='text'>Ekspresi BAB</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uuu8Ipiv07M/R1Z0tYdHKnI/AAAAAAAAAAM/ah8nMtltJY8/s1600-h/ekspresi-bab.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uuu8Ipiv07M/R1Z0tYdHKnI/AAAAAAAAAAM/ah8nMtltJY8/s400/ekspresi-bab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140424347697490546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Shoot with Olympus E-510, Lens: Zuiko 14-42mm, Hoya UV (0), Speed 1/30, F/5.6 ISO: 400&lt;br /&gt;Date: December 02, 2007 - 6:56&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307936-5023742375123123150?l=ocehan-aguk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/5023742375123123150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307936&amp;postID=5023742375123123150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/5023742375123123150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/5023742375123123150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/2007/12/ekspresi-bab.html' title='Ekspresi BAB'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uuu8Ipiv07M/R1Z0tYdHKnI/AAAAAAAAAAM/ah8nMtltJY8/s72-c/ekspresi-bab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936.post-8250899564329457151</id><published>2007-09-14T14:35:00.000+07:00</published><updated>2007-12-05T16:46:13.253+07:00</updated><title type='text'>Nafisha Humaira Raharjo</title><content type='html'>Seperti halnya kakaknya, Nafisha juga lahir hampir sesuai dengan HPL (hari perkiraan lahir) yang diperkirakan oleh dokter. Nafisha lahir ke tengah dunia ini pada tanggal 3 Oktober 2006, sama seperti kakaknya juga di Rumah Sakit Pondok Indah. Akan tetapi, Nafisha tetap memiliki keunikan dalam proses kehadirannya di tengah keluarga kami,&lt;br /&gt;Sebelum diketahui hamil Nafisha, kami sekeluarga, bersama dengan Tristan dan Tante Denok, menyempatkan bermain ke taman safari di puncak. Kami mengajak Denok dan Tristan, karena Tristan ingin main ke taman safari (dulu pernah bersama Tante Anis - kakaknya Tante Denok) dan Denok juga belum pernah ke Taman Safari. Dan tanpa kami sadari, kami bermain semacam kereta luncur. Rencananya sih supaya Tristan juga bisa belajar stress dari ketinggian.. hi hi hi.... Acara bermain ini sukses, dan Denok pun pulang ke Jember.&lt;br /&gt;Sampai hari Rabu minggu berikutnya, seharusnya Yuyun sudah menstruasi, tetapi tidak juga mens. Akhirnya hari Kamis pagi, ketika bangun tidur, kami coba melakukan test dengan test pack. Hasilnya positif. Untuk menyakinkan, hari sabtunya kami coba konsultasi ke dokter kandungan di RSPI. Dari hasil USG, memang positif hamil.&lt;br /&gt;Padahal sebelumnya diajak naik roller coaster. Untung tidak terjadi apa-apa. Masa kehamilan Nafisha pun hampir seperti kakaknya, yaitu diawali dengan turun berat badan. Bedanya, pada saat 3 bulan pertama hamil Tristan, Yuyun belum bekerja. Saat hamil Nafisha, Yuyun tinggal di Bandung hanya bersama Tristan dan bekerja setiap hari. Aduh, semoga Nafisha jadi anak yang tegar seperti bundannya. Hampir setiap hari harus gendong Tristan di depan, gendong Nafisha di perut dan bawa tas ransel di punggung yang isinya 90% barang-barangnya Tristan, mulai dari baju ganti, pampers sampai mainannya.&lt;br /&gt;Tristan sebenarnya mengharap mendapat adik laki-laki, sehingga pada saat diberitahu bahwa yang ada di kandungan bundanya itu adalah adik perempuan, Tristan sempat protes kepada dokter di RS Hermina Bandung. Kami juga mulai mencoba membiasakan Tristan untuk dipanggil kakak, dan mengajak berkomunikasi dengan Nafisha yang ada di dalam kandungan. Hal ini supaya menimbulkan rasa sayang dan menghilangkan rasa cemburu yang berlebihan – harapan kami.&lt;br /&gt;Masa terpisah kota akhirnya berakhir pada awal September 2006, seiring dengan perpindahan Yuyun ke Jakarta. Untung saja, bias berkumpul sebelum Nafisha lahir. Tidak terbayangkan kalau harus berpisah lagi setelah cuti melahirkan Nafisha berakhir. Kami akhirnya bias berkumpul di sebuah rumah sederhana yang masih kami cicil, rumah jepari – jerih payah sendiri. Dan Nafisha mulai memposisikan diri untuk kelahirannya. Dengan kandungan yang sebesar itu, 8 bulan, Nafisha membantu bunda dan kakaknya untuk menata rumah seadanya. Berbagai tumpukan kardus diangkat bunda bersama Nafisha..... semoga engkau benar-benar menjadi gadis yang tangguh...&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Hanya sebulan setelah kami menempati rumah jepari kami, Nafisha masih belum menunjukkan tanda-tanda ingin melihat dunia. Seperti halnya Tristan, sampai minggu ke-40, hari Sabtu tanggal 30 September 2006, kami mencoba bertemu dengan dokter di rumah sakit. Akan tetapi, ternyata dokternya tidak praktek hari tersebut. Disarankan untuk datang di waktu praktek lain, yaitu hari Senin. Akhirnya, setelah pulang dari kerja, saya buru-buru pulang ke rumah untuk antar Yuyun periksa ke dokter. Tristan seperti biasa, tidak bisa ditinggal, walaupun di rumah sebenarnya ada Eyang Ibu yang sudah mulai dekat lagi dengan Tristan setelah beberapa hari sampai di Jakarta. Ternyata, sesampainya di RSPI, dokter kandungannya tidak praktek lagi karena anaknya sedang sakit. Sebenarnya kami akan pulang ke rumah saja, tetapi suster yang sedang bertugas menyarankan Yuyun untuk diperiksa dahulu kandungannya di ruang VK, karena usia kandungan yang sudah memasuki minggu ke 41. Alhamdulillah, pada saat diperiksa, ternyata Yuyun sudah memasuki fase bukaan 3. Yuyun tidak lagi boleh meninggalkan rumah sakit, karena diperkirakan akan melahirkan dalam hitungan jam. Apa boleh buat, langsung saja saya pesan kamar dan mengurus asuransinya. Setelah selesai, dan Yuyun masuk ke kamar inap, sekarang yang jadi masalah adalah mengantar pulang Tristan.&lt;br /&gt;Dari rumah sakit sampai di rumah tidak ada masalah. Yang jadi masalah ketika saya akan berangkat lagi ke RSPI. Tristan meraung-raung ingin ikut lagi. Akhirnya dengan ketegaan hati, terpaksa saya tinggal Tristan dengan eyang Ibu, walaupun dengan muntah-muntah sebelum tidur. Menurut eyangnya, Tristan akhirnya bisa tidur setelah kecapekan menangis dan muntah-muntah.... duh, kasihan anak ganteng itu....&lt;br /&gt;Balik ke RSPI sekitar jam 23:00. Setelah ngobrol-ngrobrol bentar dengan Yuyun, kami memutuskan untuk istirahat. Siapa tahu besok hari yang melelahkan. Sekitar jam 24:00 tanggal 3 Oktober 2006, sesaat sebelum tertidur, tiba-tiba Yuyun merasa seperti ada cairan yang keluar. Wah, kami langsung menyimpulkan, pasti ketuban sudah pecah. Pelan-pelan saya tuntun Yuyun kembali ke VK untuk diperiksa. Suster jaga menyatakan bahwa kesimpulan kami benar, dan Yuyun tidak diperbolehkan kembali ke kamar. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, kontraksi Yuyun semakin sering. Sampai sekitar jam 02.30, Yuyun semakin kesakitan. Keadaan tambah tegang, karena sebelah kamar melahirkan sampai teriak-teriak. Heboh sekali. Selain itu, pernafasan Yuyun juga agak terganggung karena pilek dan hidung tersebut. Jadi, tarikan nafas yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi rasa sakit pada saat kontraksi sulit dilakukan dengan baik dan benar. Kami juga tegang, karena dokter kandungan kami tidak akan bisa hadir karena sedang menunggui anaknya yang dirawat di rumah sakit lain. Saat itu, hanya ada 1 dokter kandungan yang bertugas, dan sedang membantu pasien di kamar sebelah untuk melahirkan. Alhamdulillah, sekitar jam 03:00 kurang, proses di kamar sebelah telah selesai. Belum sempat dokter istirahat, langsung diminta suster untuk menangani kelahiran Nafisha. Jam 03:00 lebih sedikit, dokter sudah siap di depan Yuyun. Dengan 1 sentakan - mungkin karena sudah pernah melahirkan - lahirlah bayi mungil nan cantik kami, Nafisha Humaira Raharjo Leman Soemowidagdo tepat pada jam 03.25 WIB. Dengan panjang 48cm dan berat 3.318 gram, Nafisha hadir melengkapi keluarga kami dengan sepasang anak. Seperti biasa, Nafisha langsung dibersihkan terlebih dahulu dan dokter merawat sobekan jalan lahir Yuyun. Sesaat Yuyun selesai dirawat, maka saya sempatkan turun sebentar ke sebuah rumah makan padang di seberang RSPI untuk bersahur. Ya, karena bulan Oktober 2006 adalah bulan puasa. Setelah Nafisha bersih, maka saatnya kami berkumpul bertiga. Allahu Akbar... saya kumandangkan adzan dan iqamah kepada Nafisha. Nafisha pun dengan tidak sabar ingin segera belajar menetek kepada bundanya. Sambil terus mengagumi kecantikannya, kami pun berkabar kepada sanak saudara sampai Yuyun diperbolehkan kembali ke kamar untuk beristirahat sekitar jam 5.30&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307936-8250899564329457151?l=ocehan-aguk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/8250899564329457151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307936&amp;postID=8250899564329457151' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/8250899564329457151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/8250899564329457151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/2007/09/nafisha-humaira-raharjo.html' title='Nafisha Humaira Raharjo'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936.post-6076888088598719654</id><published>2007-07-11T13:02:00.000+07:00</published><updated>2007-07-11T13:28:08.163+07:00</updated><title type='text'>Monyet</title><content type='html'>Saya mendapatkan inspirasi tulisan ini pad saat kemarin saya makan siang di sore hari, di teras kantin kantor saya. Sembari menikmati makan siang yang terlambat tersebut, duduklah seorang karyawan kantor saya (saya tidak mengenalnya karena memang karyawan kantor saya banyak sekali) di meja yang ada di hadapan saya. Sambil menyalakan rokok, dia menelpon seseorang.&lt;br /&gt;"monyet, dimana elu?"&lt;br /&gt;"Ah manja sekali sekali sih? bawa sendiri kenapa sih?"&lt;br /&gt;"Kayak gak punya tangan dan kaki saja"&lt;br /&gt;Sesaat kemudian, orang tersebut meletakan rokoknya dan masuk ke dalam kantin (karena di dalam kantin tidak boleh merokok). Tidak berapa lama, keluarlah dia bersama seorang wanita, yang menurut saya jauh sekali dari bentuknya dari seekor monyet. Selain itu, wanita tersebut memiliki tangan dan kaki yang lengkap, wajah yang cantik rupawan. Semakin terpesona saya atas kejadian itu karena wanita itu membawakan gorengan dan minum untuk sang lelaki. Dapat dipastikan, wanita itu adalah kekasih sang lelaki.&lt;br /&gt;Ada dua hal yang membuat saya berpikir tentang kejadian ini. Yang pertama, sangat tidak menghargai sekali si laki-laki yang jagoan ini. Memanggil kekasihnya dengan monyet. Selain itu, hampir tidak mau membantu sang wanita untuk membawakan makanan dan minuman, yang notabene dimakan dan diminum juga olehnya. Yang kedua, kalau sang lelaki memangil sang wanita sebagai monyet, berarti sang lelaki tersebut juga monyet. Dan yang bisa mengerti bahasa monyet adalah monyet juga. Berarti saya dan pembaca semua adalah monyet.... ha ha ha ha....&lt;br /&gt;Bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin mengingatkan pembaca blog saya, untuk lebih menghargai sesama manusia. Terutama sekali menghargai wanita. Walau bagaimanapun, dari wanita-wanita yang pemberanilah kita dilahirkan. Selain itu, banyak juga wanita pemberani yang gagal menyelesaikan tugasnya, sehingga terpaksa gugur sebagai syuhada sewaktu melahirkan kita ini. Tanpa wanita-wanita itu, kita mungkin juga tidak bisa hidup sampai sekarang, karena merawat bayi itu ternyata sangat-sangat sulit dan ribet dengan segala tetek bengeknya.&lt;br /&gt;Intinya, hargailah sesama manusia, terutama wanita. Saya tahu pasti, pembaca blog saya bisa mencari kelebihan wanita dibandingkan laki-laki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307936-6076888088598719654?l=ocehan-aguk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/6076888088598719654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307936&amp;postID=6076888088598719654' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/6076888088598719654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/6076888088598719654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/2007/07/monyet.html' title='Monyet'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936.post-7544246132214913618</id><published>2007-07-06T14:17:00.000+07:00</published><updated>2007-07-09T15:44:59.133+07:00</updated><title type='text'>Cerita pengantar tidur - Kancil dan Buaya</title><content type='html'>Suatu hari kancil sedang kelaparan mencari-cari mentimun. Dimana-mana dia tidak menemukan mentimun yang siap dimakannya. Selalu ditemuinya kebun yang usai dipanen, atau kebun yang berisi mentimun-mentimun yang masih terlalu muda. Sambil berjalan dengan gontai, kancil akhirnya bertemu dengan Kodi si Kodok kecil.&lt;br /&gt;"Kenapa kancil berjalan gontai sekali?" tanya Kodi&lt;br /&gt;"Aku lapar sekali Kodi. Dari tadi mencari mentimun tidak pernah dapat. Engkau tahu tidak, tempat yang banyak mentimunnya?" tanya Kancil kepada Kodi&lt;br /&gt;"Eeeeee, aku tahu. Tapi aku tidak yakin engkau bisa ke sana" jawab Kodi&lt;br /&gt;"Dimana itu Kodi!!!" seru Kancil senang sekali.&lt;br /&gt;"Tidak jauh dari sini. Hanya menyeberangi sungai kecil ini" jawab Kodi&lt;br /&gt;"Tapi, bukannya sungai ini penuh dengan buaya?" tanya Kancil&lt;br /&gt;"Nah, itu masalahnya kenapa aku tidak yakin engkau bisa ke sana" ujar Kodi selanjutnya.&lt;br /&gt;Kancil diam. Di satu sisi, dia lapar sekali dan ingin makan mentimun banyak-banyak. Di sisi lain, dia juga tahu bahwa buaya-buaya di sungai itu sangat ganas-ganas sekali. Melihat kancil diam, Kodi pun pergi untuk melanjutkan perjalanannya tanpa melupakan untuk berpamitan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Sampai akhirnya kancil di pinggir sungai itu dan terlihat oleh seekor buaya.&lt;br /&gt;"Ha ha ha, kenapa Cil, sudah bosan hidup dan menyerahkan badanmu untuk aku makan?" tanya Dille si buaya.&lt;br /&gt;"Tidak Dille. Buat apa aku menyerahkan badanku yang kurus sekali ini kepadamu? Pasti tidak mengenyangkan perutmu. Lebih baik, engkau antar aku ke seberang sungai ini. Di sana ada kebun mentimun yang luas sekali. Nanti, setelah aku gemuk, bolehlah engkau makan aku sebagai balas jasanya" ujar kancil tanpa putus-putus.&lt;br /&gt;Berpikirlah Dille dengan baik. Kalau sekarang kancil dimakannya, tentuk kurang enak dibandingkan jika setelah kancil kenyang. Dan berkatalah Dille: "Naiklah ke punggungku, akan aku seberangkan dirimu ke kebun mentimun. Asalkan engkau tidak mengingkari janjimu".&lt;br /&gt;Maka diseberangkanlah si Kancil ke kebun mentimun itu. Begitu sampai di seberang sungai, tidak lupa mengucapkan terimakasihnya, kancil segera menyantap mentimun-mentimun yang segar sekali tersebut.&lt;br /&gt;Setelah kenyang dan sempat tertidur sebentar, si Kancil ingin pulang ke rumahnya. Di pinggir sungai si Kancil diam seribu bahasa melihat 8 ekor buaya berenang kian kemari. Buaya yang tadi sudah menyeberangkan si Kancil berteriak: "Bagaimana kancil? Sudahkah kau kenyang? Hendak kami makan bagaimana kancil yang malang ini?"&lt;br /&gt;Dengan cepat kancil mendapatkan ide cemerlang.&lt;br /&gt;"Kami? Maksudmu kalian semua yang akan memakan aku?" tanya kancil.&lt;br /&gt;"Iya, kami semua. Apakah engkau keberatan?" tanya Dille&lt;br /&gt;"Wah, kalau harus semuanya, aku harus menghitung kalian semua. Aku takut tidak cukup"&lt;br /&gt;"Menghitung? Menghitung kami semua?" tanya Dille dan kawan-kawannya&lt;br /&gt;"Iya, menghitung kalian semua. Apakah kalian tahu jumlah kalian semua?" tanya kancil kemudian.&lt;br /&gt;"Hmmm, tidak tahu. Kami tidak tahu jumlah kami semua" jawab kawanan buaya tersebut.&lt;br /&gt;"Baiklah, kalian berjajar sepanjang sungai ini, nanti aku akan menghitungnya. Berjajar yang rapi ya...." Kata si Kancil dengan cerdiknya.&lt;br /&gt;Setelah buaya-buaya tersebut berjajar hinggu diseberang sungai ini, kancil mulai menghitung dengan menginjak kepala setiap buaya sampai masing-masing buaya berteriak mengaduh kesakitan. Begitu sampai di seberang segera kancil berlari menjauh dari sungai sambil berteriak "Delapan dan terimakasih buaya-buaya tolol. Aku sudah memeriksa kepala kalian yang ternyata memang tidak ada yang punya otak". Dille dan kawan-kawannya hanya bisa memaki dan marah atas kebodohan mereka sendiri, sehingga kancil bisa meloloskan diri dari santapan mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307936-7544246132214913618?l=ocehan-aguk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/7544246132214913618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307936&amp;postID=7544246132214913618' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/7544246132214913618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/7544246132214913618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/2007/07/cerita-pengantar-tidur-kancil-dan-buaya.html' title='Cerita pengantar tidur - Kancil dan Buaya'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936.post-115828192051488274</id><published>2006-09-15T07:57:00.000+07:00</published><updated>2007-07-16T11:55:31.121+07:00</updated><title type='text'>Khotbah</title><content type='html'>&lt;div  id="50808_kdub2" style="font-family:verdana;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Baru-baru ini, sewaktu saya berkumpul dengan buah hati saya di rumah selepas maghrib, terdengarlah pengajian dari sebuah masjid yang berjarak sekitar 150 meter dari rumah kontrakan kami. Isi khotbahnya cukup bagus, terutama bagi yang sudah berkeluarga. Sambil bermain dengan istri dan Tristan, saya membagi perhatian untuk memdengakan khotbah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Khotib yang menyampaikan khotbah tersebut dengan berapi-api. Suaranya semakin keras karena dimasukkan ke pengeras suara yang biasa hanya digunakan untuk mengumandangkan adzan. Sebenarnya, saya kurang setuju dengan cara seperti ini, karena akan mengganggu orang lain yang tidak seiman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi, yang mengagetkan adalah tanggapan Tristan yang baru akan berusia 3 tahun bulan akhir bulan depan (kejadian ini sekitar bulan April 2006). “Ayah, ada orang marah-marah," kata Tristan. Secara spontan saya memberitahu bahwa orang tersebut (khotib) tidak marah, tetap sedang berkhotbah. Tetapi, Tristan ternyata tidak sependapat dengan saya. Tristan tetap menganggap, setiap orang yang berbicara dengan nada tinggi adalah orang yang sedang marah. Seperti sejak bayi, Tristan relative sensitive terhadap suara orang yang berbicara dengan keras. Tristan selalu takut melihat orang yang sedang marah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah itu, saya baru menyadari, bahwa ada dua pelajaran yang diambil dari kejadian ini. Pertama perlunya melihat urgensinya mengeraskan pengajian yang dilakukan di masjid sehingga memekak telinga dan yang kedua adalah perlunya menjaga sang khotib untuk menjaga intonasi. Mungkin sang khotib tidak salah, karena audensi yang ada di masjid tersebut adalah orang-orang dewasa, bukan anak-anak seperti Tristan. Hanya saja, ternyata khotbahnya terdengar oleh Tristan, yang selalu takut melihat ataupun mendengar orang yang marah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semoga hal ini bisa menjadi pelajari bagi saya, istri saya dan orang-orang yang mau berbagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307936-115828192051488274?l=ocehan-aguk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/115828192051488274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307936&amp;postID=115828192051488274' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/115828192051488274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/115828192051488274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/2006/09/khotbah.html' title='Khotbah'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936.post-115810980199147503</id><published>2006-09-13T07:59:00.000+07:00</published><updated>2006-09-13T08:10:02.000+07:00</updated><title type='text'>SPAM</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;SPAM dikenal sebagai pengganggu di email rekan-rekan semua. Tapi tahukah rekan-rekan, berasal dari manakan kata SPAM tersebut?&lt;br /&gt;MERK DAGING!!!!&lt;br /&gt;Ya betul, SPAM adalah merk daging kalengan di Inggris yang dijual mulai sekitar 1930-an. Lalu, mengapa bisa menjadi idiom yang mengganggu mailers di seluruh dunia? Kejadiannya dimulai sekitar tahun 1970-an, ketika seorang komedian Inggris membuat komedi dengan mengakhiri semua kata-kata ocehannya dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;spam&lt;/span&gt;. Rekan-rekan ingat komik smurf? Di komik tersebut semua kata-kata diakhiri dengan kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;smurf&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Kalau di komik tentu tidak mengganggu, karena memang kita menginginkan kelucuan dari ketidaknormalan. Tetapi ketika kebiasaan sang komedian tersebut dibawa di kehidupan sehari-hari, tentu menjadi mengganggu. Dari gangguan dalam komunikasi tersebut, akhirnya kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;spam&lt;/span&gt; menjadi kata benda sendiri yang merupakan pengganggu. Tahun 1990-an, spam menjadi istilah/kata benda yang mempunyai arti email-email yang tidak dikehendaki/mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Spam&lt;/span&gt; akhirnya berkembang, sehingga ada kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;spammers&lt;/span&gt; yang berarti pelaku/pengirim email secara mass, sehingga mengganggu penerimanya. Aneh sekali, dari merk daging menjadi email yang mengganggu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;-- &lt;span style="font-style: italic;"&gt;saya mengetahui dari acara pelajaran bahasa inggris di Radio BBC siaran Indonesia, yang disiarkan di Radio Sonora Jakarta --&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307936-115810980199147503?l=ocehan-aguk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/115810980199147503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307936&amp;postID=115810980199147503' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/115810980199147503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/115810980199147503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/2006/09/spam.html' title='SPAM'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307936.post-115810874244453569</id><published>2006-09-13T07:48:00.000+07:00</published><updated>2006-09-13T07:56:38.920+07:00</updated><title type='text'>Tristan Huwaiza' Raharjo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/785/3779/1600/Tristan_2_weeks.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/785/3779/320/Tristan_2_weeks.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Hari Sabtu, 24 May 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengantar istriku, calon ibu bagi anakku yang pertama ke RSPI. Kami sudah berada di RSPI sejak jam 14:00-an siang. Pas sudah hampir maghrib, kami dipanggil untuk menghadap dokternya. Oleh dokter diperiksa dan ditanya-tanya. Apakah sudah terasa mules-mules? Sudah terasa ada kontraksi atau belum. Kalau menurut hitungan dokter, seharusnya tanggal 26 Mei adalah HPL (hari perkiraan lahir) anak pertamaku. Setelah diperiksa, kami cuma diminta membeli obat, yang katanya sih, untuk membersihkan jalan lahir. Kalau sampai besok pagi masih belum berasa apa-apa, kami tetap diminta datang ke RSPI untuk dilakukan induksi.&lt;br /&gt;Sepulang dari dokter, kami menyempatkan makan pecel lele di Kemang, dekat kantorku yang lama, GASI. Selalu makan dengan menu paha ayam goreng dan tahu goreng dengan sambel nambah 2 kali dan es jeruk. Sementara istriku tetap setia dengan lele dan tempe gorengnya. Sambil makan kami berbicara berbagai kemungkinan yang akan terjadi besok. Walau bagaimanapun, melahirkan adalah sebuah ritual suci, yang sangat tinggi amalannya. Bagaikan seorang muslim yang maju perang yang membela agama.&lt;br /&gt;Setelah makan, kamipun beranjak pulang ke rumah kontrakan kami di Cirendeu. Kamipun menyempatkan untuk sholat Isya berjama'ah. Serta berdoa agar kami akan selalu diberikan kesempatan untuk dapat sholat berjama'ah dan diberikan kekuatan untuk menghadapi "peperangan" esok hari.&lt;br /&gt;Malam ini, kami berusaha untuk beristirahat, tetapi sulit sekali rasanya untuk dapat memicingkan mata. Membayangkan esok pagi yang pasti akan terasa berat, panjang dan penuh kejutan. Sekali lagi, ini adalah pertamakalinya aku menghadapi kelahiran putra darah dagingku sendiri dari rahim istriku...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;div id="38761_kdub2"&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Hari Minggu, 25 May 2003&lt;br /&gt;Pagi hari kami terbangun dengan berbagai rasa, antara takut dan keinginan untuk segera melihat buah hati kami. Jam 9 kami berpamitan kepada tetangga rumah kontrakan kami. Segera setelah selesai ngobrol, kami berangkat ke RS Pondok Indah. Sesampainya disana, istriku segera masuk ke ruang bersalin untuk diperiksa seperlunya dan diberikan pemacu kontraksi, berhubung hari tersebut tepat usia kandungannya 40 minggu. Sesaat setelah itu, belum terjadi hal-hal yang begitu mengejutkan. Saya sendiri segera mengurus kamar rawat inapnya. Dan sesuai dengan permintaan istriku untuk menghemat, kami mengambil kamar kelas 1.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sekitar jam 12-an, istriku mulai mengalami kontraksi diiringi dengan keributan di tempat tidur sebelah. Maklum, kelas 1 jadi harus berbagi. Ternyata kondisi ini tidak membuat istriku nyaman untuk menghadapi ketegangan yang ada. Akhirnya saya minta naik kelas ke VIP, supaya istriku bisa lebih nyaman dan tenang. Mulai jam 16, kontraksi mulai sering dan istriku semakin terlihat kesakitan walaupun tidak menyurutkan semangatnya. TV disetel begitu lirih, karena taku mengganggu istriku pada saat terjadi kontraksi. Sekitar jam 16-an, bukaan diperkirakan masih sekitar 1 sampai 2&lt;br /&gt;Akhirnya, jam 20-an istriku dibawa ke ruang bersalin, untuk diperiksa bukaannya lagi. ternyata sudah bukaan 6. Oleh karena itu, istriku tidak diperbolehkan untuk kembali ke kamar. Bukaan tersebut bisa bertambah sewaktu-waktu. Kami masih menunggu di ruang bersalin dengan semakin seringnya kontraksi datang berulang-ulang. Sambil menunggu saatnya, saya mendampingi istriku untuk tetap berlatih pernafasannya. Waktu menunjukan jam 22.00 saat diperiksa bukaannya masih berkisar 6-7 saja. Kami sudah mulai tegang. Sekitar 23.30, suster kembali memeriksa bukaannya, diperkirakan sudah masuk level 8. Oleh karena itu, istriku dipindahkan ke kamar bersalin.&lt;br /&gt;Di ruang bersalin, semua dipersiapkan. Alat-alat untuk membantu persalinan disiapkan. Jalan lahir disterilkan. Dokter ditelpon untuk segera hadir. Kami berdua semakin tegang. Apalagi pada saat dokter datang, yang malah bercanda minta wedang jahe ke susternya. Ketika dokter sudah datang, kontraksi semakin parah. AC di kamar bersalinpun tidak membantu saya untuk tidak berkeringat, apalagi istriku. Dokter bersiap dengan segera dibantu oleh suster-susternya. Usaha pertama tidak menunjukkan hasil apapun. Istriku seperti kehabisan nafas. Usaha kedua, dibantu dengan dorongan satu orang suster. Saya hanya melihat tebalnya rambut anakku yang sempat keluar sebentar, tetapi kemudian masuk lagi. Akhirnya, dibantu dengan 2 suster yang mendorong dari perut istriku, keluarlah kepala anakku yang ternyata sangat sangat besar........&lt;br /&gt;Oek... oek... oek... Tepan jam 01.18. Kencang benar tangisannya. Seorang laki-laki yang bernama Tristan Huwaiza Raharjo Leman Soemowidagdo telah hadir di dunia ini melalui rahim Nurul Isnaini Raharjo. Beratnya 3,4kg dengan panjang 47cm. Setelah lahir dan dipotong plasentanya, Tristan segera dibersihkan dan dicek segala sesuatunya oleh suster. Sementara dokter membersihkan jalan lahir istriku dan menjahit sobekan karena besarnya ukuran Tristan. Setelah Tristan bersih, dia diserahkan oleh suster kepada saya untuk kemudian saya perdengarkan adzan dan iqomah di telinganya. Setelah itu, Tristan ditidurkan didada istriku. Beberapa saat kemudian, Tristan diambil kembali karena suster takut dia kedinginan. Kamipun kemudian menelpon kedua orang tua kami untuk mengabarkan kelahiran Tristan. Akhirnya, jam 4 pagi kami kembali ke kamar untuk beristirahat.........&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307936-115810874244453569?l=ocehan-aguk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/feeds/115810874244453569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307936&amp;postID=115810874244453569' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/115810874244453569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307936/posts/default/115810874244453569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocehan-aguk.blogspot.com/2006/09/tristan-huwaiza-raharjo.html' title='Tristan Huwaiza&apos; Raharjo'/><author><name>Aguk Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15011319202522774010</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
